Kalau iseng aja….coba buatlah pertanyaan dimulaii dengan kata “mengapa’. Misalnya, mengapa saya lahir? mengapa saya tidur? mengapa saya makan? mengapa saya marah? dan mungkin juga, mengapa saya membaca tulisan ini? Sekarang tolong tuliskan minimal 5 (lima) jawaban sederhana dari setiap pertanyaan yang anda buat. Tolong baca berulang-ulang jawaban anda. . . . . Nikmati aja jawaban anda.

Ada beberapa kemungkinan yang anda alami; tertawa, tak peduli, sekedar iseng aja, atau mungkin menghindar untuk menjawabnya. Hal ini dipengaruhi langsung oleh apa dan bagaimana anda menjawabnya.

Lain halnya, jika anda menjawabnya dengan sedikit usaha kemudian memberikan jawaban yang sedikit menggambarkan keadaan diri anda sekarang. saya yakin bahwa anda akan terus mengoreksi jawaban anda. Lakukanlah. Koreksi terus, dan pasti asyik. Kalau sudah cukup berhentilah, dan endapkan lagi jawaban itu sampai anda betul-betul yakin atas jawaban itu. Jawaban itu akan mengkristal dengan sendirinya lewat proses koreksi tadi.
Jawaban terakhir yang anda peroleh menjadi ‘alasan kuat’ atas tindakan anda yang ditanyakan tadi.

Setelah menemukan alasan kuat melakukan sesuatu, maka kita memliki semangat yang lebih untuk meraihnya. Dan tentu saja kita akan sangat-sangat menderita kalau kita gagal melakukan hal itu.

Teman-teman yang ingin maju, temukanlah alasan kuat yang membahagiakan anda setiap kali melakukan sesuatu. Berdasarkan alasan kuat itu kita menjalani hidup ini lebih mudah dan penuh sukacita.

October 4, 2008 at 4:12 am Leave a comment

Menjernihkan Tujuan

Saya sering mendengar keluhan begini: kenapa ya target saya ga tercapai? maksudnya tujuan yang telah ditetapkan tidak menjadi kenyataan. Bahkan sang yang punya tujuan menjadi frustrasi. Tujuan yang tadinya bagus menjadi buyar, terasa jauh sekali, tidak akan bisa diraih.

Pada umumnya setiap orang mampu menentukan pilihannya masing-masing. Pilihan yang diambil pun YANG TERBAIK, minimal terbaik pada saat itu.
Dalam perjalanan waktu ternyata di tengah jalan kita sering tergoda untuk berhenti dan menyerah. Give up. Kesulitan-kesulitan datang silih berganti dan seolah ada gunung besar yang menghalangi perjalanan kita menuju target yang telah kita tetapkan. Sangat menyedihkan, memang.

Pada saat putus asa melanda rasanya dunia terasa kejam, pilih kasih, dan alam semesta tidak bersahabat. Ada tiga pilihan sikap yang bisa diambil ketika mengalami hal seperti itu, yaitu 1). mengakhiri hidup karena tak kuat menghadapi kesulitan yang akan datang terus; 2) menyerah, meninggalkan tujuan itu begitu saja karena tujuan itu tak lebih dari suatu mimpi di siang bolong; 3) terus melangkah sampai merasa bahagia karena tujuan itu telah dinikmati.

Untuk itu, kita perlu menjernihkan tujuan kita agar setiap saat kita mempunyai energi meluap untuk segera meraihnya. Kita butuh sumber energi itu.

1. Tetapkan tujuan yang hendak anda capai. Bayangkan dirimu sangat bahagia, senang , bila berhasil melakukannya. Kemudian, bayangkan penderitaan-penderitaan yang akan menimpa anda bila anda gagal mencapai tujuan itu. Tujuan yang hendak kita capai itu bisa kita persembahkan untuk kebahagiaan diri kita sendiri, atau demi orang yang yang sangat berharga dalam hidup kita.

2. Seiring dengan kerja keras anda untuk mencapai tujuan tadi, tanyakan pada diri sendiri APAKAH YANG ANDA LAKUKAN SAAT INI TERARAH PADA TUJUAN YANG HENDAK DICAPAI? ATAU APAKAH YANG ANDA LAKUKAN SAAT INI BERTENTANGAN DENGAN TUJUAN ANDA? Maksudnya, kondisikanlah tindakan yang anda ambil setiap saat terarah pada tujuan yang hendak anda capai. Kegagalan terjadi karena tindakan kita bertentangan dengan tujuan hidup kita.

Bila anda mampu melakukan dua hal diatas, energi kita terpancar dari dalam diri kita. Energi itu meluap dengan dahsyat. Lakukanlah. Sekarang juga.

Salam Dahsyat!

December 14, 2007 at 2:31 am Leave a comment

DUKA Menari

Duka menari

(diiringi bunyi…….satu-satu masuk dari berbagai sudut….sambil melihat ke langit)

Menarilah engkau duka…..diatas luka kami
Menarilah engkau sedih …..diatas sepi kami
Menarilah…..biar kau puas….menggilas kami…

(menuju depan altar…tari kecak…..cak.cak….)

dulu, kau menjadi dewa kami
harapan kau ukir, janjikan kami damai….
Dulu, engkau bertutur manis…
Harum……..memikat…gairah mencair.

(hentakan cepat..)

kini engkau berpaling, ….jauh…..

Mengapa bumi kami hancur, (terjatuh di lantai…….)
Menggilas nyawa, meremuk jiwa….

Mengapa utang kami melipat, mengapa hidup kami susah (..simbol utang…)

Piring kami pecah….diinjak orang… (piring pecah diperlihatkan)

Mengapa hati kami beku, nurani kami simpul (harta karun…)

Darah kami tumpah…tak berharga… (senjata…adegan berkehi)

Mengapa kami mati…..

(Masih pake bunyi….)

apakah kami ingkar….

Atau kami diuji…???/

(satu-satu pulang….diiringi bunyi….)

December 10, 2007 at 2:37 am Leave a comment

Agama dan Pluralisme: suatu tantangan

Agama akhir-akhir ini sering kali disebut-sebut untuk mengungkap apa yang sedang terjadi di dalam kemasyarakat. Agama sebagai institusi menggiring para pemeluknya untuk memperjuangkan nilai-nilai yang mereka yakini, sesuai dengan ajaran agama itu sendiri. Di pihak lain agama itu berada di tengah masyarakat yang heteregon, ada agama lain yang diyakini oleh orang lain pula, ada faham lain, budaya lain dsb. Segala perbedaan itu dipraktekkan pada ruang yang sama, masyarakat pluralisme. Maka tak heran, banyak sekali terjadi benturan-benturan di tengah masyarakat baik benturan karena sentimen agama, benturan budaya dan kepentingan lainnya.

Agama dan Religiositas
Melihat dari sejarahnya, beragama itu sendiri merupakan sikap batin seseorang untuk mengungkapkan pemahamannya terhadap yang ilahi, yang berada di luar dirinya. Sesuatu yang di luar dirinya menjadi pusat dan arah tujuan pemahamannya. Sikap batin ini tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan budaya manusia itu sendiri. Nah, ketika sikap batin tadi menjadi bagian dari kebudayaan manusia maka ia mendapat tempat tersendiri dalam sendi-sendi kehidupan. Sikap batin tadi menjelma juga dalam cara berelasi dengan sesama. Dari sini muncullah nilai-nilai yang bisa dipakai untuk lebih mengharmoniskan seluruh sendi kehidupan tadi. Untuk melestarikan nilai-nilai tersebut mau tidak mau perlu ada institusi yang menjaganya. Apapun dasarnya, institusi itu akhirnya hadir dan mendapat otoritas dari para penghayat nilai-nilai tadi. Maka, agama lahir sebagi institusi.
Sedangkan religiositas jauh melampaui institusi agama, ia bergerak di bidang relung batin. Religiositas menjadi energi kreatif yang membawa seseorang memahami dirinya dalam tatanan kosmologi ini. Dalam memahami dirinya itu, manusia semakin menyadari bahwa ada sesuatu yang lain, melampaui keberadaannya, dan mampu menyelenggarakan seluruh keberadaan itu sendiri. Energi ini begitu dasyatnya sehingga manusia tidak pernah bisa diam. Ia mengolahnya hingga semakin tajam, dalam dan cerdas. Akhirnya religiositas itu sangat pribadi, privasy, tetapi menjangkau totalitas.

Agama dan Nilai
Agama pada awalnya adalah eksklusif, hanya berlaku bagi para pemeluknya saja. Ritus, ajaran, dan struktur agama memang tak bisa menjangkau kelompok lain.. Ketika agama menjadi identitas maka wajarlah kalau di dalam agama itu terdapat hal-hal yang berlaku khusus, tidak menjangkau komunitas lain yang berbeda cara pandang. Seperti saya sebut tadi, ritus agama itu jangan dipaksakan kepada komunitas yang tidak memeluk agama tersebut, biarlah ritus menjadi milik komunitas itu sendiri.
Namun demikian, agama tidak terbatas ketika agama berbicara tentang nilai, nilai-nilai luhur kemanusiaan. Bukankah nilai-nilai yang ditawarkan agama adalah nilai-nilai universal, demi menemukan rasa damai dalam kehidupan manusia. Agama akan berjuang terus mehadirkan keadilan, persamaan hak, rasa aman, dan kepentingan umum lainnya.
Nilai-nilai universal yang menjangkau seluruh lapisan masyarat adalah menjadi titik temu agama-agama yang ada. Ketika agama mampu mengedepankan kepentingan umum tersebut agama tidak lagi menjadi milik kelompok tertentu. Malahan agama menjadi pemersatu sekaligus pelopor yang menghargai perbedaan tadi.

Pluralisme
Realitanya bahwa di dalam masyarakat kita ini telah terjadi interaksi budaya yang luar biasa. Masyarakat kita terdiri dari berbagai-bagai macam latar belakang dan cara pandang, termasuk maca-macam agama juga, baik itu agama resmi maupun agama yang dihayati oleh masyarakat tanpa pengakuan dari pemerintah. Memang tak jarang terjadi benturan-benturan sana-sani ketika mulai terjadi hegemoni. Kelompok yang satu merasa dirugikan karena ia tidak mendapat akses yang sama sebagai manusia sementara yang lain memperoleh lebih dan kadang merugikan yang bukan dari kelompoknya.
Tanpa disadari dalam ruang yang serba beragam ini ada kecenderungan untuk lebih mendominasi satu terhadap yang lain. Lebih parahnya lagi benturan itu sering kali terjadi karena kesombongan budaya dan fanatisme sempit agama. Satu budaya terlalau percaya diri sehingga merendahkan budaya lain. Sementara agama dipakai sebagai alat menyerang orang lain yang berbeda kepercayaan.
Dalam kemajemukan seperti terjadi di Indonesia mestinya segala sesuatu harus di hargai dan diberi ruang yang sama. Perbedaan harus dilihat sebagai kekayaan yang saling melengkapi dan menguntungkan. Bisa saja terjadi satu budaya tertentu atau juga agama tertentu paling banyak memiliki massa, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk menyerang dan melenyapkan kelompok lain.
Dalam pluralisme sangat dibutuhkan keterbukaan. Terbuka terhadap kebenaran orang lain sekaligus secara jujur mengakui kesalahan sendiri terhadap orang lain. Mestinya saling menghargai dan melindungi satu sama lain, bukan saling menyerang, menghujat, dan saling meniadakan. Tapi kenyataannya sih memang lain, kecurigaan selalu muncul, bahkan ketakutan terhadap kelompok lain juga ada. Curiga terhadap keberhasilan kelompok lain yang memakai cara-cara yang tidak fair, curiga bahwa akan terjadi monopoli kebenaran, curiga niat buruk orang lain, sehingga akan timbul reaksi yang berlebihan. Takut kehilangan massa, kesempatan, dan power untuk menguasai yang lain. Kecurigaan dan ketakutan ini muncul dalam bentuk yang sangat berlebihan dan tidak manusiawi. Pengrusakan besar-besaran pun diakomodir baik fisik maupun relasi kemasyarakat. Yang lebih parah, itu tadi, pengrusakan itu selalu dilandasi oleh sentimen agama yang dangkal.

Kita kemana?
Saya berpendapat kita harus hadapai bersama persoalan ini. Hal itu mengandung beberapa arti. Pertama, harus bersama-sama menyamakan persepsi tentang suatu masalah, tidak boleh masalah itu kita andaikan begitu saja. Bisa saja bagi satu kelompok menganggap ini masalah sementara kelompok lain tidak demikian. Hal ini meminta kesediaan setiap orang untuk mengedepankan persoalannya dan secara bersama-sama melihat masalah itu sebagai masalah bersama kalau memang demikian.
Kedua, kebersamaan dilihat bukan sebagai relasi yang baik di dalam kelompok sendiri, tetapi kebersamaan lebih sebagai kebersamaan sebagai makhluk Ilahi yang mendambakan bumi yang damai bagi semua. Ada saat berpihak pada kelompok sendiri ketika kelompok itu mengarah kepada kemanusiaan, universal. Serta merta berani mengkritik kelompok sendiri ketika kelompok itu hanya mengedepankan kenyamanan dan kepentingannya saja.
Ketiga, agama harus menjadi pejuang kebenaran demi kedamaian bagi semua, baik bagi pemeluk agama itu sendiri maupun orang lain. Jadi agama sendiri, terutama lewat tokoh dan ulamanya, harus berani mengedepankan pencitraan manusia sebagai insan Ilahi. Dengan demikian, agama tidak membatasi diri pada hal-hal ritual yang eksklusif itu. Pun agama sebaiknya terbuka juga kepada agama lain dan duduk bersama sebagai saudara bukan sebagai musuh bebuyutan.

Aaron T. Waruwu.

December 10, 2007 at 2:35 am Leave a comment

Menara Babel Syndrome

MENARA BABEL Syndrome: antara Kreatifitas dan Pembodohan
Relevankah di Nias?

Oleh A. Waruwu

Penggambaran simbolik Menara Babel (baca: Kitab Kejadian 11 : 1-9) telah diketahui banyak orang . Konon, pembangunan menara ini diprakarsai oleh Nimrod yang adalah cucu Nabi Nuh sendiri. Yang menarik perhatian saya ialah mengapa manusia mendirikan Manara Babel ini, dan apa implikasinya dalam sejarah peradaban manusia.

MENGAPA?

“(ayat 4: Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit (i), dan marilah kita mencari nama (ii), supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi(iii).Inilah kutipan yang sangat bombastis itu. Disini kelihatan sekali bahwa ada tiga pokok yang terkandung di dalamnya:
(i) Prakarsa manusia yang kreatif. Hal ini tentunya sangat baik. Bukankah Allah telah mengaruniakan kemampuan berpikir kepada manusia? Manusia memiliki daya kreatif yang luas biasa sebagai menjadi identitas dirinya dibandigkan makhluk ciptaan lain. Potensi ini sangat dahsyat sehingga manusia mampu ikut serta dalam karya Allah : menguasai alam semesta.
(ii) Identitas nama besar. Kala merasa ‘nyaman’ dengan dirinya, maka manusia membuat suatu sejarah monumental. Manusia haus pujian, manusia ingin dihargai dan dikenang sepenjang sejarah peradaban. Kalau perlu manusia ingin menjadi ‘model’ yang patut digugu dan dijunjung bagi generasi seterusnya atas kebaikan dan keberhasilan yang pernah ia raih. Dengan kata lain, manusia ingin mewariskan sesuatu yang dianggapnya baik dan penting agar namanya tetap dikenang sepanjang masa. Pada taraf ini, tanpa disadari, mulai muncul kesombongan budaya, mendominasi olah pikir dan monopoli kebenaran.
(iii) Impian: simbol persatuan manusia. Ini adalah strategi jitu yang dipakai oleh sang motivator ulung: mengajak bermimpi hidup yang lebih baik lagi. Perhatikan konteksnya, justru pada saat itu Nimrod dan rakyatnya hidup dalam kemapanan, kebutuhan mereka sudah terpenuhi dan aman secara politik. Bayangkan kalau mimpi ini ditawarkan kepada orang miskin dan susah: bisa menjadi bius yang luar biasa sehingga mematikan daya kritis dan olah rasa. Maka, pada taraf ini terjadi pembodohan. Intrik-intrik sentimental, manipulasi kebenaran dan data, indoktrinasi, kemasan bahasa yang provokatif dan sekaligus simpatik, dan lain sebagainya sungguh menjadi cara yang manjur untuk mewujudkan Menara Babel itu.

Wujud Menara Babel itu sendiri memang sangat fantastis. Berupa bangunan yang sangat tinggi menggapai langit. Pada awalnya dibayangkan bahwa di atas menara itu manusia melakukan aktivitasnya (baca: memanah matahari) dan melindungi diri dari ancaman (baca: mengatasi keterbatan manusia). Menara ini menjadi pintu menuju Allah, Sang Pencipta. Rupanya, manusia ingin menyamai Allah, duduk sebagai sebagai Allah. Kalau bisa juga, manusia ingin mengatur Allah agar Allah mengikuti kehendak manusia itu sendiri. Itulah kesalahan manusia terbesar dalam sejarah: kesombongan itu sendiri.
Mudah sekali akhirnya bagi Lambert Dolphin (The Tower of Babel) menjawab ketika ditanya untuk apa menara itu dibangun? Mencari KEPUASAN diri dan KEMEGAHAN diri. Itulah jawaban singkat Lambert Dolphin.

Memang, kepuasan diri dan kemegahan diri menjadi akar dari kesombongan manusia. Kedua hal itu menjadi ‘gula-gula’ yang mampu merebut seluruh perhatian manusia. Bisa saja menjadi rahmat karena manusia mampu mengekspresikan dirinya lewat daya kreatifnya tetapi bisa juga menjadi opium yang bekerja secara membabi buta.

APA IMPLIKASINYA?

Apakah Allah ‘cemburu’ atas kehebatan manusia ciptaanNya itu? Apakah Allah merasa disaingi? Sama sekali TIDAK! Allah justru bangga atas potensi manusia yang berkembang sangat pesat ini. Hanya sayangnya, manusia tidak berbicara (baca: konsultasi) dengan Allah. Bukankah alam ini beserta isinya, termasuk manusia, diciptakan oleh Allah sendiri? Artinya, Allah lebih berkuasa dari manusia dan dengan sendirinya Kehendak Allah itu yang paling utama, bukan kehendak manusia yang menjadi prioritas.
Proyek raksasa Menara Babel pun gagal kerena kesalahan manusia tadi. Nimrod lupa bertanya apakah proyek ini dikehendaki Allah atau tidak. Nimrod mencari nama untuk dirinya sendiri dan bangsanya saja. Nyatanya, Allah pun mengamat-amati aktivitas manusia tadi. Ketika rencana dan cara kerja manusia menyimpang jauh dari kehendakNya, Allah meluruskannya kembali. Ia bertindak agar harmoni cipataanNya tetap ada, meski hal itu menjadi kegagalan besar bagi manusia itu sendiri. Dari kegagalan Menara Babel ini, kita temukan bebarapa mutiara:
a. Rencana manusia harus selaras dengan Kehendah Allah (Mat 26: 39 ‘janganlah seperti yang Kuhendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki). Manusia boleh merencakan apa saja dan mengerjakannya sejauh sesuai kehendakNya. Satu kehendak Allah, yaitu agar manusia menjadi baik dalam arti keselamatan (indidu dan komunal), entah itu itu keselamatan teologis, keselamatan politik, keselamtan sosio-anthropologi, keselamatan ekonomi, dan lain-lain.Jika saluran keselataman ini dipakai untuk kepuasan dan kemegahan manusia maka manusia gagal sehingga mendatangkan penderitaan kepada banyak orang. Tidak mengherankan bahwa setelah proyek Menara Babel tercerai-beraikan dan akhirnya hancur juga.
b. Akomodasi keberagaman. Allah rupanya tetap konsisten bahwa manusia itu berbeda. Ia tidak merestui kehendak manusia memonopoli kebenaran dan menolak unifomitas atas budaya. Menara Babel justru terbengkalai karena manusia mau meleburkan keberagaman dalam uniformitas tadi.
c. Provokasi sentimentil memperburuk kemanusaiaan. Ketika seseorang atau sekelompok orang menempatkan dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih maju, merasa lebih mengenal Allah sebagai sumber kebaikan , ia terprovokasi atas dirinya sendiri. Narsistik dalam arti luas bisa menggambarkan keadaan tersebut. Sentimen-sentimen kedaerahan, kelompok, atau teritori tertentu mulai dibangun agar dirinya dan orang-orang yang bisa dipengaruhinya mulai tergerak ‘hati’nya. Provokasi sentimentil ini justru merusak dan memperburuk pengejawantahan nilai-nilai universal (kasih, persaudaraan, keadilan, dll). Proyek Menara Babel telah mengorbankan hak dan kebebasan ribuan budak Mereka telah menelan opium mimpi para pemimpinya yang lebih pintar dan sok tahu itu. Allah bertindak sehingga mereka segera bebas dan menyadari realita yang sebenarnya.
d. Manipulasi kebenaran. Kebenarannya adalah, bahwa Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk :”penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-iakn di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi,” (Kejadian 1:28). Tetapi hal ini tidak menghilangkan kemungkinan bahwa sewaktu-waktu Tuhan ikut campur secara arif dalam kehidupan manusia. Kecenderungan manusia adalah menguasai kebenaran. Disitulah problemnya, manusia sering kali mengedepankan kebenaran yang bukan kebenaran Allah tetapi mengatasnamakan Allah. Proyek Menara Babel pun hancur karena kebenaran manusiawi yang dikedepankan.

RELEVANKAH DI NIAS?

Jujur, saya tidak mau mengadili siapapun. Tulisan ini justru saya lontarkan untuk melihat pengalaman dengan kaca mata lain saja. Lewat kanal-kanal yang ada di tengah masyarakat, marilah kita melihat cara kerja, ide yang diusung, pencerahan yang disampaikan oleh siapapun. Pantas kita kritisi secara konstruktif. Jangan sampai kita hanya bisa menelan tanpa bisa mengunyah. Maka, saya mengundang para pembaca tulisan ini menuliskan pengelamannya agar saya diperkaya dan Anda juga semakin tergugah.
Silahkan …….
………………………
…………………….

Yaahowu

Bandung, 25 April 2007

December 10, 2007 at 2:31 am 2 comments

Mengolah Diri

Mengolah Diri

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke tukang foto dengan membawa negative film pasphoto saya dulu. Dengan segala keahliannya, tukang foto itu mengolah film tadi di ruang kerjanya. Wow…dalam hitungan menit ia keluar dan menunjukkan dua lembar pasphoto saya sendiri. Di luar dugaan, bayang-bayang yang saya lihat dalam film tadi kini menjadi jelas dan sangat bagus. Bukan hanya, itu pasphoto ini jauh lebih bagus dari apa yang saya lihat di film tadi. Suatu pekerjaan yang sangat indah: mengolah hal sederhana menjadi luar biasa. Di dalam perjalanan pulang ke rumah, saya merenungkan kejadian ini .

Bukankah hidup kita ini bagaikan film tadi? Setiap orang memiliki potensi dalam dirinya bagaikan film tadi Sejak lahir sesoang telah memiliki apa yang disebut bakat atau telenta. . Talenta ini bisa berkembang dengan luar biasa bila ada kemauan untuk mengolahnya seperti tukan foto tadi.

Namun, sering kali kita mendengar keluhan sahabat, teman, kenalan, atau kita sendiri. Mereka merasa tidak memiliki sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Bahkan tak jarang membandingkan dirinya dengan orang lain; saya tidak sepintar di A, aku tidak sesabar si B. Rasa-rasanya mereka hampir putus asa. Seolah-olah mereka hadir di dunia ini tanpa membawa apa-apa, entah itu bakat, sifat baik, atau hal-hal lain yang pantas mereka banggakan.

Banyak sekali potensi yang dimiliki setiap orang. Ada sifat-sifat baik sepeti kesabaran, kejujuran, simpatik, dan kerja sama. Ada juga berupa bakat, seperti bermain musik, mengukir, menyanyi. Potensi ya tetap menjadi potensi saja kalau belum berani mengolahnya dengan baik. Contohnya, sesorang sebetulnya mempunyai bakat mengukir. Tetapi orang tersebut tidak pernah menyentuh pahat untuk memulai ukirannya atau dia tidak sudah memegang pahat dan mengarahkannya ke sebatang kayu tapi ia tidak pernah membenturkan palunya pada pahat yang ada ditangannya.

Jika anda menjadi pribadi yang istimewa, berlatihlah melakukan sesuata yang anda suka dan pada saat itulah potensi anda sedang terolah.

December 10, 2007 at 2:07 am Leave a comment

DOA : Rendaan Terindah

Disini kubcoba menyebut namaMU
hadir menanti kasihMu
yang lama kurindu

SapaMu getarkan lidahku yang kelu
ingin jiwaku bermadah
melantunkan doa

Reff.
Tuhan, inilah hambaMu
di dalam bertutur
sangat sederhana dan tak sempurna

Tuhan, jadikan hidupku
rendaan tanganMu
yang terindah dan penuh sukacita

November 10, 2007 at 7:07 am 4 comments

Older Posts


Categories

  • Blogroll

  • Feeds